Biografi Pengusaha Anomali Coffee
Irvan
Helmi dan Muhamad Abgari memang cenderung konservatif dalam mengembangkan kafe
Anomali Coffee. Lihat saja, sejak didirikan pada 2007, jumlah outlet yang
didirikan baru enam, terdiri dari empat di Jakarta dan dua di Bali. Padahal
mereka mengaku hampir tiap minggu mereka menerima permintaan franchise untuk
Anomali Coffee. Bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga dari di luar negeri
seperti Malaysia, Singapura, Rusia, dan China. Hal itu mereka lakukan
karena mereka tidak yakin bahwa mereka bisa mentransfer value dan misi
yang mereka pegang, yaitu mempromosikan dan menjaga kualitas kopi Indonesia.
Passion mereka terhadap kopi, khususnya kopi Indonesia, sangat
tinggi. Hal ini pula yang membuat mereka berpikir berkali-kali untuk memberikan
izin franchise terhadap
Anomali Coffee. Mereka tidak ingin bisnis kopi ini ditangani oleh orang yang
tidak memiliki passion di
bidang kopi. Mereka juga cukup selektif dalam memilih manajer. Bagi mereka,
manajer yang bagus bagi bisnisnya bukan hanya manajer yang memiliki kemampuan
manajerial yang bagus, tapi yang utama ia juga harus memiliki passion pada
kopi. Passion menjadi
kata kunci bagi bisnis kopi yang mereka jalankan.
Bagi
mereka, pertumbuhan tidak hanya bisa dilihat dari jumlah gerai yang didirikan.
Memang saat ini mereka hanya memiliki enam outlet sejak pertama kali berdiri
pada lima tahun lalu. Namun mereka juga menjual roasted coffee bean yang
saat ini penjualannya mencapai tiga ton per bulan dari yang hanya 10 kg – 15 kg
per bulan saat awal berdiri. Dari tiga ton biji kopi panggang tersebut, mereka
juga memasok ke berbagai coffee
shop lainnya. Walaupun penjualannya masih didominasi produk
makanan minuman yang sebesar 70%, dibanding wholesales coffee bean yang hanya
30%, tapi pertumbuhan penjualan coffee
bean secara ritel cukup tinggi.
Walaupun
mereka ngiler dengan
peluang pertumbuhan yang tinggi dari sisi penambahan jumlah gerai melalui franchise, tapi mereka
tidak lantas tergoda. Mereka lebih memilih membenahi dan mengoptimalkan apa
yang sudah mereka miliki. Berikut wawancara Denoan Rinaldi dengan Irvan dan
Agam di gerai Anomali Coffee di Kemang:
Gambaran umum tentang bisnis coffee shop?
(Irvan
Helmi) Ketika awal didirikan pada 2007, belum banyak produsen dan coffee shoplokal yang menjual
kopi premium. Jika bicara international
chain, saya ragu untuk mengategorikannya sebagai premium atau
tidak. Saya sulit untuk menilainya. Harganya memang premium, namun dari sisi
produk, apakah termasuk specialty
coffee atau tidak, terdapat standarnya masing-masing. Biasanya
jika membicarakan kualitas kopi yang terbaik, yang dilihat adalah tergolong
ke specialty coffee atau
tidak. Namun di Indonesia belum ada asosiasi atau lembaga yang mengeluarkan
sertifikat mengenai specialty
coffee ini.
Biasanya
klaim mengenai specialty
coffee ini keluar dari masing-masing merek coffee shop atau
penjual kopi. Pada 2007 kami belum melihat coffee shop yang menjual specialty coffee.
Asosiasi specialty
coffee Indonesia baru terbentuk pada 2008. Setelah asosiasi
ini terbentuk, anggota yang terbanyak adalah dari pihak penghasil green bean, bukan dari
pihak coffee shop.
Mungkin pada 2009, banyak bermunculan coffee
shoplokal yang menjual specialty
coffee terutama di daerah Jakarta Selatan yang
memanggang (roasting)
kopi sendiri atau bahkan mengambil kopi dari anomali.
Pada
2009 itu juga Anomali mulai serius memasok biji kopi. Bahkan kompetitor kami
yang sama-sama menjual espresso, membeli biji kopi dari kami. Walau secara
produk minuman kami berkompetisi, namun di balik itu sebenarnya kami adalah
mitra. Kami memasok mereka biji kopi, melatih mereka, dan bahkan memasok mereka
mesinnya. Menurut kami itu sehat. Jadi tidak perlu paranoid oleh kompetisi.
Dari awal kami memang ingin menjual specialty
coffee. Namun ketika awal buka, kami menemukan kesulitan untuk
mencari green bean yang
baik.
Siapa kompetitor yang muncul pada 2009?
(Muhammad
Abgari) Belum ada sepertinya yang seperti kami, kafe dengan roaster-nya.
(Irvan)
Ketika kami berdiri, belum banyak coffee
shop yang buka. Pada 2009, mulai banyak yang coffee shop buka.
Namun yang misinya memperkenalkan kopi Indonesia, menurut saya, belum ada.
Bisa dikatakan Anomali sebagai leading coffee shop yang juga
memasokspecialty coffee (biji
kopi)?
(Abgari)
Kami menjadi salah satu pencetus atau pemicu kopi Indonesia menjadi primadona.
Soalnya Anomali sendiri kerap diundang menjadi pembicara diskusi-diskusi
mengenai kopi Indonesia yang diadakan di Singapura. Dulu, kopi Indonesia masih
dianggap kopi yang inferior di mana hampir seluruh kopi Indonesia yang
diproduksi adalah robusta, sekitar 90% robusta dan sisanya Arabica, di mana
kami hanya bermain di Arabica.
Bagaimana pertumbuhan industri coffee
shop dan pemasok kopi? Apa indikatornya?
(Abgari)
Indikatornya bisa dilhat dari permintaannya. Saya sempat dengar cerita bahwa
terdapat beberapa grup hotel luar negeri yang menggunakan kopi dari Anomali.
Sebenarnya, ketika kalangan luar negeri, dengan standarnya sendiri, mau
menggunakan kopi dari Anomali, mereka justru mengakui kualitas kopi Indonesia,
di mana kebetulan Anomali yang memasok. Sebenarnya permintaan untuk kopi
Indonesia sudah mulai bagus. Jadi, bagus tidaknya kopi bukannya hanya dari
bijinya saja, namun juga dari tingkat kesegaran biji kopi itu sendiri. Mereka
sudah paham bahwa salah satu kekuatan Anomali ialah Anomali memanggang kopi
sendiri sehingga bisa dijamin tingkat kesegarannya. Anomali juga mengambil kopi
yang bagus dan proses internal di kami yang sesuai dengan standar
internasional.
Saat
ini tiap bulan kami memanggang sekitar tigaton. Pada masa awal cuma 10 – 15 kg.
Saat pertama kali kami buka di Senopati, kami buka dengan kursi hanya 10 kursi.
Kami kehabisan dana untuk membangun lantai dua kafe kami karena membeli
mesin roasting yang
harganya hampir Rp 1 miliar. Saat ini kami memiliki dua mesin roastingdari Turki dan
Swiss, salah satu merek mesin roasting-nya,
Buhler dengan kapasitas maksimum 20 kg.
(Abgari)
Awalnya, kami memanggang biji kopi sendiri untuk memenuhi kepuasan kebutuhan
kami sendiri. Ketika kami mencari kopi untuk ditaruh di Anomali, sulit
menemukan kopi yang menurut kami bagus di pasar. Maka dengan kesoktahuan kami,
kami membeli mesin panggang. Lalu kami mencari biji kopi sendiri dan
memanggangnya sendiri. Ternyata orang-orang suka dengan hasil panggangan kami.
Akhirnya kami jual biji kopi hasil panggangan kami dan kami tambah portofolio
kopi kami dari berbagai region di Indonesia. Awalnya kami mulai dengan menjual
kopi dari satu region saja, yaitu Toraja. Sekarang sudah ada tujuh region,
hingga ada kopi luwak. Mengalir begitu saja. Namun dari awal kami memosisikan
Anomali khusus menjual specialty
coffee Arabica.
Mengapa bisa sukses? Apa kunci suksesnya?
(Irvan)
Pertama, yang membuat kami bertahan adalah kecintaan, di luar karena memang
pertumbuhannya terbukti. Kedua, ketika ada pertumbuhan, kami harus cepat untuk
mengambil langkah. Awalnya kami tidak terpikir untuk memasok kopi atau jadi
pemasok kopi. Tapi kami jadi pemasok kopi saat ini. Hal ini menjadi semacam
ekspansi dan menangkap peluang. Kami berusaha menangkap peluang. Karena dengan
seperti itu, kami bisa kontrol betul-betul produk kami dan menjadi beda yang
tidak bisa didapatkan di tempat yang lain.
(Abgari)
Ketiga, kami fokus untuk mengembangkan SDM. Ada produk di Anomali yang di-handle with care.
Mungkin di beberapa tempat lain, SOP untuk membuat kopi berdasarkan
takaran-takaran. Jadi, kopi yang dibuat di luar takaran itu, maka barista itu
salah. Kalau di Anomali tidak seperti itu. Jika SOP itu tidak sesuai dengan
rasa yang pas, maka SOP-nya kami ubah lagi.
Yang
jadi parameter baik atau tidaknya minuman kopi bukan SOP pembuatannya, tapi
manusia yang membuatnya. Barista harus mengetahui standar rasa kopi yang bagus
karena kualitas biji kopi yang berbeda-beda di tiap region, bahkan tiap kali
panen. Maka Baristalah yang harus menyesuaikan, bukan SOP-nya. Barista harus
memiliki know
how bagaimana ia mengoptimalkan apa yang ia pakai saat itu
karena banyak faktor yang memengaruhi rasa kopi, dari mulai lama roasting, lama
penyimpanan, dan lainnya. Menularkan passion ke
SDM merupakan hal yang paling sulit.
(Irvan)
Keempat, untuk bisa tetap bertahan, kami harus memiliki reason yang kuat
untuk bertahan dan reason itu
bukan sekedar menghasilkan uang. Kalau sekedar menghasilkan uang, banyak usaha
lain yang bisa dilakukan. Jualan minuman beralkohol saja sekalian karena
permintaannya banyak dan saya dengar juga pemerintah berencana untuk
meningkatkan kuota produksi minuman beralkohol. Kami tidak seperti itu karena
kami memiliki reason untuk
ada (eksistensial - raison d’etre). Reason kami adalah sesuai dengan
misi kami yaitu mempromosikan kopi Indonesia dengan kualitas yang terbaik, yang
belum selesai hingga kini. Maka dari itu SDM penting sekali bagi kami karena
yang menyampaikan misi dan produk kami bukan kami berdua, melainkan SDM-SDM
kami. SDM kami harus mengerti betul misi Anomali.
Dengan
mereka mengerti misi Anomali, mereka merasa bahwa mereka sedang menjalankan
suatu misi, tidak sekedar bekerja delapan jam dan selesai. Kalau mereka merasa
bahwa mereka tengah dalam misi, maka mereka pun akan menjelaskan ke pelanggan
dengan passion.
Dari sana bisa dilihat bahwa kami tidak sekedar hanya jualan. Tapi menyampaikan
misi. Kalau mau jualan atau lakukan hard
selling, kami bisa pajang menu “ice
blended” dan membuat paket-paket buy 1 get 1. Tapi kami tidak lakukan itu.
malah di menu kami, yang paling memakan tempat adalah diagram black coffee di
mana penjualan black
coffee juga tidak terlalu tinggi. Penjualan black coffeehanya 30%
dari seluruh penjualan minuman.
Banyak coffee
shop lokal yang juga menawarkan kopi lokal. Bahkan
international brands juga menggunakan dan memperkenalkan kopi lokal berdasarkan
region di Indonesia. Lalu apa bedanya dengan Anomali?
Kami
merasa semakin mereka besar, kami akan semakin lebih besar lagi. Pada saat awal
Anomali dibangun, tidak banyak coffee
shop yang menjual dan memanggang sendiri kopi Indonesia.
Ketika sekarang banyak menjamur coffee
shop yang mirip kami, masak kami yang lebih dulu mulai tidak
lebih besar dari mereka?! Itu logika sederhananya. Selain itu, kami juga harus
jeli melihat peluang.
Apa pelajaran bisnis yang bisa dipetik dari bisnis ini?
(Irvan)
Mungkin terdengar kliese, namun ternyata yang memperkuat kami adalah misi kami
di awal. Jadi, ketika seseorang ingin membuat bisnis, memang seseorang itu
harus menentukan secara mendalam misi bisnis tersebut. Tanpa hal ini, kami
hanya coffee shop biasa.
Ada atau tidak adanya kami, tidak akan menjadi pengubah untuk apapun. Itu satu
hal yang menurut saya cukup mendasar.
Formulasikan dari awal menjalani, saat menjalani, dan menyikapi
pertumbuhan?
(Irvan
dan Abgari tertawa mendengar pertanyaan ini)
(Abgari)
Satu hal yang pasti adalah bisnis harus untung. Di mana pun pertumbuhan
berfungsi untuk mendukung profit.
Percuma kami bisa ekspansi dengan memperbanyak outlet, tapi sales-nya tidak
bertambah banyak. pertama, manajemen risiko harus diperhatikan. Bagaimana
bisnisnya berkembang, salah satunya dengan menambah outlet, tapi dengan
perhitungan profit yang
terencana. Karena ada juga orang yang ekspansi dengan memperbanyak outlet, tanpa ia
melihat akar usahanya kuat atau tidak (dari sekian banyak outlet yang
dibuka, hanya beberapa yang menghasilkan profit).
Menurut
saya, jumlah outlet Anomali
sejak 2007 -2013 yang hanya enam outlet,
sebenarnya tidak istimewa. Namun memang bukan itu tujuan kami. Kami memang
membuatnya dengan build
for less. Kehati-hatian atau manajemen risiko harus ada. Dari awal
kami sadar kemampuan kami sendiri. Jadi, pertama, kami harus kalkulasi mengenai
kesiapan internal terhadap apa yang direncanakan sesuai dengan visi dan misi
perusahaan. Kemudian, sebisa mungkin mendapatkan keuntungan dari efisiensi
internal. Misalnya, alasan mengapa Anomali memanggang biji kopinya sendiri.
Jadi, kasarnya, kopi menjadi mata uang bagi Anomali. Karena Anomali produsen
kopi, orang lain mau dibayar oleh biji kopi kami.
Untuk
menjalankan perusahaan, how
to-nya secara SDM, kami melakkan training, proses seleksi calon karyawan
yang bagus. Secara standarisasi produk, harus ada acuannya di mana kami mengacu
ke organisasi-organisasi yang well
established di dunia. Kemudian, yang paling penting
adalah passion karena
bisnis ini bersifat moody.
Kalau “napasnya” tidak kuat, maka akan sulit untuk melanjutkan bisnis ini.
Nah, passion ini
yang menjadi value Anomali.
Ini yang susah dibeli.
Bagaimana menyikapi pertumbuhan?
Kami
sangat konservatif. Sudah banyak yang meminta Anomali untuk di-franchise-kan. Namun
kami tolak. Setiap minggu pasti kami terima permintaan itu. Permintaan itu
tidak hanya berasal dari Jakarta atau luar kota, tapi juga dari luar negeri,
yaitu Malaysia, Singapura, Rusia, dan China. Yang kami tekankan adalah value kami. Kami
belum mau memberikan franchise karena
kami belum bisa mentrasfer value dan passion kami. Hal
ini bisa dilihat ketika kami merekrut SDM. Ketika kami merekrut SDM, calon SDM
dinilai tidak hanya dari ilmu manajemennya saja. Tapi apakah orang tersebut
memiliki passion terhadap
kopi? Seperti manajer training dan wholesale kami,
dia sering menjadi juri di kejuaraan kopi di mana-mana. Kalau ada acara
pelatihan tentang kopi di Indonesia, manajer kami yang menjadi instrukturnya,
bahkan ajang di luar negeri. Di bisnis kopi ini, yang kami jaga adalah value kopi itu
sendiri.
Jadi tidak terbuai dengan pertumbuhan yang tinggi?
(Abgari) Ngiler sih. Tapi
kami tidak ke arah sana. Kami cenderung lebih memaksimalkan apa yang kami
miliki saat ini. Daripada kami gambling untuk
membuka outlet banyak,
tapi tidak menghasilkan profit dan
bahkan menggerogoti apa yang sudah ada. Kami pastikan bahwa semua tempat yang
kami buka harus menghasilkan profit,
karena ada juga orang yang membuka outlet banyak,
namun yang menghasilkan profit hanya
sedikit.
Bagaimana agar bisnis tetap berjalan dan punya sistem?
(Abgari)
SOP harus dibangun dari awal. Kami juga lakukan revisi SOP ketika ada input
dari SDM itu. Kami lakukan revisi SOP seperlunya. Tidak dikhususkan dilakukan
pada periode tertentu.
Bagaimana bisnis bisa sustain dan melembaga?
(Abgari)
Paling penting adalah value itu
tadi.
(Irvan)
Selain itu, kata yang lumayan tepat untuk mewakili mengapa kami buka wholesales, impor
mesin, dan membuka di Bali, adalah evolusi untuk beradaptasi. Mengapa manusia
bisa bertahan di dunia? Atau mengapa dinosaurus tidak bisa bertahan sedangkan
jerapah bisa bertahan sejak zaman dulu? Karena mereka bisa beradaptasi dengan
lingkungannya. Terkait dengan kami, segila-gilanya kami terhadap passion kami,
kami juga tidak menutup mata untuk beradaptasi. Misalnya dengan menambah
minuman-minuman di luar kopi, seperti teh, cokelat, dan lainnya. Hal ini harus
dilihat dalam konteks adaptasi. Namun kami tidak berubah spesien dari Angsa
menjadi Buaya. Kami tidak ada rencana mengubah nama Anomal Coffee menjadi
Anomali Coffee and Tea.
(Abgari)
Kami memiliki value yang
kami pegang, namun kami harus tetap bisa fleksibel terhadap pasar.
Di
Senopati, nantinya kami akan buka toko kopi, yaitu toko yang menjual
produk-produk yang berkaitan dengan kopi, seperti gelas, tumbler, alat membuat
kopi, dan lainnya. Bahkan kami mau buat ruang training kopi bagi pelanggan yang
mau belajar tentang kopi. Jadi outlet di
Senopati akan jadi training
center for learning coffee.
Jadi nanti Anomali juga bisa jadi distribution channel untuk berbagai
produk kopi?
(Abgari)
Ya. Saat ini kami juga sudah distributor produk-produk terkait kopi dari
Jepang, Prancis, Amerika, dan Italia. Produk-produk yang dijual, mesin kopi
dari Prancis dengan merek Unic, mesin kopi dari Amerika dengan merek Synesso,
mesin grinder dari
Italia dengan merek Mazzer, dan peralatan seduh kopi merek Hario dari Jepang.
Kami benar-benar menjadi distributor sejak 2011, khususnya Synesso. Sebelumnya,
kami hanya jadi tempat untuk titip jual. Harga mesinnya bermacam-macam, mulai
dari Rp 5 juta hingga Rp 180 juta.
Bagaimana agar pada satu titik, bisnis bukan hanya sekedar passion, tapi jadi
entitas yang besar?
(Abgari)
Jika bicara passion¸kami
hanya passion pada
kopi. Namun untuk membuat bisnis ini bertahan dan besar, kami juga jualan
selain kopi yaitu minuman lain, roti-roti, dan makanan lain. Sungguh enak jika
bisa besar dengan passion.
Kondisi penjual kopi sangat enak di Melbourne, Seattle, dan San
Francisco. Di sana, bisa jualan kopi sebanyak 2.000-3.000 cups per hari.
Mereka hanya buka dari jam 8 pagi hingga 3 sore. Namun kami sadar dengan
kondisi di Indonesia yang berbeda dari tempat-tempat itu. Maka kami
menjual minuman lain. Kami membedakan antara passion dan ego.
Untuk menjadi besar dan melebihi passion?
(Abgari)
Tidak mungkin melebihi passion.
Kami besar beriringan dengan passion.
Konsumen menilai Anomali berdasar passion-nya.
Kami berkembang tidak melulu dari bisnis kafe. Dari segi jumlah outlet memang outlet kami hanya
enam. Tapi kami juga menjadi pemasok biji kopi. Itu masih passion Anomali.
Jadi memang ke depannya produk Anomali tidak bisa terlalu generik. Kami tidak
mungkin bisa jual kopi satu sachet seharga
Rp 1.500,-. Kami memang belum mau seperti itu. Mungkin uang besar, tapi kami
belum mau seperti itu. Kami juga tidak perlu diterima oleh seluruh lapisan
masyarakat. Jadi statement atau
pertanyaan ini tidak berlaku untuk seluruh usaha.
Rencana ke depan dan strategi?
(Irvan)
Tetap fokus di kopi dan mengoptimalkan outlet yang
kami punya. Melakukan perbaikan-perbaikan yang terkait pengembangan, baik di
internal maupun di industri kopi secara umum. Misalnya, kami mungkin akan
membuat produk kopi yang dikemas untuk sekali minum bagi konsumen di rumah. itu
bagian dari evolusi. Selain itu, kami juga sedang mengembangkan outlet di
Senopati untuk membangun experiencekonsumen
ketika masuk ke outlet bukan
hanya sekedar toko kopi, tapi ketika keluar dari toko kami, mereka
mendapat experience mengenai
hal-hal detil mengenai kopi Indonesia, dari mulai proses pembuatan hingga ke
cerita sejarah kopi Indonesia. Dengan itu, konsumen yang datang ke Anomali akan
benar-benar kenal dengan kopi Indonesia.
(Abgari)
Target membuka outlet lagi.
Namun tidak di Indonesia karena kami melihat kultur masyarakat di Indonesia
terhadap kopi yang tidak seperti di luar negeri. Kami ada rencana buka outlet di
Singapura. Mudah-mudahan bisa tahun ini. Namun kami memang tidak ekspansif.
Untuk jangka panjang, mungkin kami bisa ekspor green bean. Dan target jangka panjangnya
sesuai dengan misi kami untuk mempromosikan kopi Indonesia. Jadi pertumbuhannya
tidak selalu harus kafe.
Kinerja?
Total
karyawan seratus lebih. Total outlet adaenam.
Penjualan paling besar dan F&B, sekitar 70%, dan sisanya dari
penjualan coffee
bean ritel.
Komentar
Posting Komentar